PKBM "BERLIAN" CIREBON

Beranda » Renungan » Pemilihan Kuwu Awal Perseturuan Antara Keluarga,Haruskah Terjadi ?

Pemilihan Kuwu Awal Perseturuan Antara Keluarga,Haruskah Terjadi ?

Pemilihan Kuwu dilaksanakan di wilayah Pedesaan. Pelaksanaan pemilihan kuwu sudah berjalan bertahun – tahun lamanya sebagai perwujudan demokrasi. Pelaksanaan pemilihan bertujuan untuk menentukan siapa yang pantas dan mampu amanah untuk menjadi pemimpin di suatu Desa.

Demokrasi bagi masyarakat awam di pedesaan masih banyak yang belum memahami arti dari sebuah demokrasi akhirnya akan mudah terombang ambing tidak menentu arah sehingga mudah untuk terpecah belah.

Banyak hal terjadi di masyarakat dampak dari pemilihan kuwu, disini saya tuliskan contoh Si C ada keterikatan keluarga dengan para calon kuwu yang masing – masing akan bertarung untuk memperebutkan pimpinan desa, alur ceritanya  calon kuwu A adalah saudara dari Kakak dan calon kuwu B saudara dari mertua, apa yang ada dalam benak si C ini merupakan dilema bagi si C. Atau contoh lain tetangga kita akan mencalonkan kuwu sedangkan teman dekat kita mencalonkan juga, apa terjadinya di masyarakat dan diantara pendukung masing-masing. Timbulnya saling mencuriagai, saling mengamati, dan sampai perselisihan merebutkan pendapatnya masing – masing. sampai ada yang terjadi tidak mau saling sapa karena beda pendapat dan pilihan, haruskah ini terjadi terus menerus setiap akan pemilihan kuwu ?

Yang paling menyedihkan bagi penulis, setelah terjadinya pertarungan diantara kandidat calon- calon kuwu diakhiri dengan ejekan, cacian, sampai-sampai timbulnya huru hara perusakan (anarkis), mungkin ini akan terjadi terus menerus bila tidak ada perubahan sistem pemilihan yang menghasilkan kondusifitas bagi masyarakat di desa.

Bila melihat pesta demokrasi di PILKADA atau di pemilihan – pemilihan yang lain masyarakat di desa tidak terlalu berdampak negatif karena tidak saling bersentuhan diantara para pendukungnya yang akhirnya perbedaan itu selesai bila pelaksanaan berakhir, bila PILWU sebaliknya sampai berakhirnya jabatan seorang kuwu diantara pendukung masih ada yang berselisih paham, haruskah ini terjadi terus ?

Kami selaku masyarakat hanya prihatin atas kejadian -kejadian dampak dari PILWU, karena tidak mungkin daerah pedesaan akan dibuat kelurahan seluruhnya. Ini masih banyak pembelajaran yang harus dikaji atau mungkin pemahaman kepada seluruh komponen diantaranya masyarakat harus belajar demokrasi, Panitia PILWU harus benar -benar Jurdil, kuat mental adanya tekanan salah satu pihak untuk pemenangan calon kuwu, dan netral dengan sejujurnya tidak hanya klise di hadapan masyarakat, karena timbulnya permasalahan akibat dari Panitia PILWU tidak netral.

Tulisan ini hanya sekedar unek-unek yang saya keluarkan melalui blog PKBM “BERLIAN” tapi saya berharap ini ada manfaatnya bagi pembaca dan diri saya dan menjadi suatu renungan.

Iklan